PENINGKATAN KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK TERINTEGRASI MODEL PROBLEM SOLVING
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu elemen
yang harus dimiliki oleh suatu negara. Karena dengan adanya pendidikan suatu
negara tersebut akan mengalami suatu kemajuan bahkan bisa pula mengalami
kemunduran, yang berarti pendidikan merupakan suatu hal kunci yang harus
dimiliki oleh setiap negara.
Di dalam dunia pendidikan terdapat
beberapa jenis mata pelajaran yang harus ditempuh oleh seorang siswa agar dapat
menguasai indikator pencapaian suatu materi tertentu. Salah satu mata pelajaran
yang ada dalam pendidikan adalah ilmu berhitung yang dikenal dengan istilah
“Matematika”. Menurut Sumarmo (2003:26) matematika pada hakekatnya merupakan
sebuah sistem aksiomatis deduktif formal yang memuat komponen-komponen dan
aturan komposisi yang dapat menjalin hubungan secara fungsional diantara
beberapa komponen.
Di dalam Sumarmo (2003:35) menyatakan
bahwa secara garis besar kemampuan dasar matematika dapat diklasifikasikan
dalam lima standar, yaitu 1) mengenal, memahami, dan menerapkan konsep, prosedur,
prinsip dan ide matematika 2) menyelesaikan masalah matematika 3) bernalar
matematika 4) melakukan koneksi matematika 5) komunikasi matematika.
Salah satu klasifikasi kemampuan dasar
yang wajib dimiliki oleh siswa adalah kemampuan bernalar mengenai matematika
yang berkaitan dengan pola dan sifat, manipulasi matematika, pembuatan
generalisasi, menyusun sebuah bukti, menjelaskan gagasan dan pernyataan
matematika serta memecahkan sebuah permasalahan matematika. Ball, Lewis &
Thamel mengemukakan (dalam Wijaya, 2010) bahwa “mathematical reasoning is
the foundation for the construction of mathematical knowledge”, yang
berarti bahwa kemampuan penalaran matematika harus dimiliki setiap siswa dalam
mempelajari matematika karena kemampuan penalaran merupakan sebuah fondasi atau
sebuah kemampuan dasar dalam mengkonstruk pengetahuan matematika.
Artinya modal yang harus dimiliki oleh
setiap siswa dalam mempelajari matematika adalah memiliki kemampuan penalaran
matematis yang berfungsi untuk mengidentifikasi permasalahan, memikirkan cara
penyelesaian yang tepat dan menyelesaikan permasalahan yang diberikan dalam
pembelajaran matematika.
Dalam pembelajaran matematika, siswa
akan diajarkan mengenai cara menyelesaikan permasalahan matematika yang
nantinya juga akan berkenaan dengan permasalahan sehari-hari yang akan sering
mereka temukan, tidak hanya sekedar menghafalkan suatu rumus matematika
tertentu. Karena dengan sebuah penalaran dan pemahaman seorang siswa dapat
dengan mudah mengingat konsep-konsep matematika tanpa harus dengan menghafal,
karena apabila kita menghafal maka cepat ataupun lambat hafalan kita juga akan
terkikis, berbeda dengan memahami. Namun aktivitas utama dalam matematika adalah
berhitung dan penerapan rumus.
Matematika berfungsi mengembangkan
kemampuan berhitung pada siswa, berpikir secara logis, sistematis dan
konstruksional, mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan matematis
yang berupa kalimat, persamaan matematika, grafik ataupun tabel. Dalam
pembelajaran matematika memiliki salah satu tujuan yaitu untuk melatih cara
berpikir logis dalam penalaran matematika. Karena antara penalaran dan materi
ajar matematika memiliki keterkaitan yang kuat dan tak dapat diabaikan. Untuk
memahami materi ajar matematika dibutuhkan suatu kemampuan penalaran yang baik
dan kemampuan penalaran dapat dilatih melalui pembelajaran matematika.
Didalam suatu pembelajaran matematika
tidak hanya mengajarkan siswa untuk menghafal suatu konsep dan rumus matematika
saja tetapi esensi dari pembelajaran matematika adalah untuk melatih kemampuan
penalaran pikiran siswa yang diintegrasikan dalam suatu pembelajaran
matematika. Selain itu, siswa diberi sebuah rangsangan agar dapat melihat suatu
hubungan sebab-akibat dalam permasalahan matematika dan setiap siswa juga
diharapkan cerdas dalam pemecahan masalah matematika.
Berdasarkan hasil pengamatan yang
dilakukan terhadap siswa Kelas VIII D SMP Negeri 1 Wonosari, kemampuan
penalaran matematika yang dimiliki siswa masih kurang maksimal. Diperoleh
beberapa faktor penyebab masih kurang maksimal dalam penalaran matematika,
yaitu 1) siswa kesulitan dalam
menyajikan pernyataan matematika dengan lisan, tertulis, tabel, gambar atau
diagram 2) siswa kurang maksimal dalam mengajukan dugaan awal dalam suatu
permasalahan matematika 3) siswa kurang maksimal dalam melakukan manipulasi
matematika 4) siswa masih kurang maksimal dalam menarik kesimpulan, menyusun
bukti dan memberikan alasan.
Selain itu siswa cenderung tidak
menuliskan apa yang diketahui dari soal sehingga mengisyaratkan bahwa siswa
kurang mampu menangkap ide pokok permasalahan yang kemudian ditampilkan dalam
bahasa matematika. Sehingga disaat seorang siswa dihadapkan sebuah permasalahan
matematika sebagian besar kurang maksimal dalam menyelesaikan permasalahan matematika
tersebut.
Pentingnya penguasaan dalam pemecahan masalah
ditegaskan oleh Branca (dalam Firdaus, Ahmad 2009) yaitu kemampuan
menyelesaikan masalah merupakan tujuan umum pengajaran matematika. Dapat ditarik
kesimpulan bahwa tujuan umum dalam mempelajari matematika yaitu pemecahan
masalah. Dengan adanya itu siswa dilatih dapat menyelesaikan permasalahan dalam
dunia nyata. Dalam pembelajaran matematika siswa harus memiliki kemampuan
penalaran matematika yang menjadi sebuah proses untuk mencapai tujuan yaitu
dapat memecahkan permasalahan matematika.
Oleh karena itu suatu pembelajaran dapat
berhasil diukur dengan keberhasilan siswa yang mengikuti kegiatan pembelajaran
tersebut tingkat pemahaman, penguasaan materi dan prestasi belajar itu tinggi.
Menurut Musriah (2009:3) beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam
pembelajaran matematika sebagai berikut : 1) antusias siswa dalam mengikuti
pembelajaran 2) antusias siswa dalam mengajukan pertanyaan 3) antusias siswa
dalam mengerjakan soal latihan 4) antusias siswa dalam mengerjakan soal didepan
kelas. Itu semua dibutuhkan suatu penalaran yang baik didalam suatu
pembelajaran.
Siswa yang mempunyai kemampuan penalaran
matematika yang tinggi dapat dilihat dari kemampuan berpikir yang logis, baik
yang bersifat deduktif maupun induktif. Artinya, siswa tersebut dalam
mengutarakan pendapat untuk menjawab permasalahan matematika tidak asal-asalan.
Ia mampu mengemukakan sebuah konsep matematika yang menjadi dasar penyelesaian
soal. Sehingga, seorang siswa mampu berpikir analitik dalam penyelesaian
permasalahan, dengan menghubungkan suatu gambar, benda nyata maupun soal-soal
cerita kedalam ide-ide matematika.
Ada beberapa cara yang dapat
menumbuh-kembangkan kemampuan penalaran matematika siswa, misalnya seorang guru
yang dapat memacu siswa agar mampu berpikir secara logis dan sistematis dengan
memberikan suatu permasalahan-permasalahan matematika yang sesuai dengan
kehidupan sehari-hari berkaitan dengan materi yang sedang diajarkan. Kemudian
seorang guru dapat menunjukkan langkah-langkah penyelesaian permasalahan tadi
dengan runtut sesuai dengan teorema dan konsep matematika. Sehingga siswa dapat
menganalisis langkah-langkah yang telah diberikan oleh guru tersebut. Selain
itu seorang guru dapat membelajarkan siswanya dengan pendekatan pembelajaran
yang mampu diserap oleh siswa.
Pendekatan pembelajaran menurut Mulyono
(2012:13) sebagai titik tolak atau sudut pandang pendidik terhadap proses
pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang
sifatnya masih sangat umum, didalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan dan
melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. Mulyono (2012:13)
mengemukakan bahwa pendekatan pembelajaran terdiri dari 1) pendekatan
pembelajaran berorientasi/berpusat pada siswa 2) pendekatan pembelajaran
berorientasi/berpusat pada guru 3) pendekatan ekonomi yang memandang anak
adalah investasi masa depan 4) pendkatan agama bahwa pendidikan adalah nilai
ibadah.
Pendekatan pembelajaran sangat penting
dalam pendidikan. Pendekatan pembelajaran bersifat fleksibel yang artinya
sewaktu-waktu dapat diubah sesuai dengan perkembangan zaman. Karena seiring
berjalannya waktu kecanggihan teknologi, sarana-prasarana semakin maju, maka
dari itu dalam dunia pendidikan semestinya dapat mengikuti kemajuan teknologi
tersebut. Begitu pula pada zaman ini, Kementrian Pendidikan mengubah Kurikulum
yang sedang digunakan, dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan menjadi
Kurikulum 2013.
Pada kurikulum 2013 yang diterapkan oleh
Kementrian Pendidikan Nasional mewajibkan sekolah yang mampu untuk menerapkan
Kurikulum 2013 supaya dapat menerapkan pendekatan saintifik. Dengan tujuan
seorang siswa lebih mendalami materi yang berhubungan dengan kegiatan
sehari-hari. Didalam Kurikulum 2013 menjadi hal yang mutlak untuk menggunakan
pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik merupakan pendekatan ilmiah untuk
yang digunakan untuk membuktikan atau untuk memahami suatu materi.
Penggunaan pendekatan saintifik dalam
pembelajaran matematika dapat menjadi salah satu sarana untuk
menumbuh-kembangkan kemampuan penalaran matematika siswa. Nurul (2013)
menyebutkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan saintifik merupakan
pembelajaran yang menggunakan pendekatan ilmiah dan inkuiri, dimana siswa
berperan langsung baik secara individu maupun kelompok untuk menggali konsep
dan prinsip selama kegiatan pembelajaran, sedangkan tugas seorang guru adalah
mengarahkan proses belajar yang dilakukan siswa dan memberikan koreksi terhadap
konsep dan prinsip yang diperoleh siswa.
Menurut Jati (2014) Pembelajaran
saintifik merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam
membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Model pembelajaran yang diperlukan
adalah yang memungkinkan terbudayakannya kecakapan berpikir sains,
terkembangkannya “sense of inquiry” dan kemampuan berpikir kritis siswa,
yang mengutamakan bagaimana pengetahuan, ketrampilan dan sikap itu diperoleh
oleh siswa. Dengan suatu langkah-langkah yang jelas dan sistematis, seorang
siswa diyakini akan terbelajarkan dengan baik dan dapat memahami materi yang
telah diajarkan.
Langkah-langkah dalam pendekatan
saintifik merupakan bentuk adaptasi dari langkah-langkah ilmiah pada sains.
Proses pembelajaran dapat dipadankan dengan suatu proses ilmiah. Pendekatan
saintifik diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap,
ketrampilan dan pengetahuan siswa. Para ilmuwan mengedepankan penalaran
induktif daripada penalaran deduktif.
Penalaran deduktif merupakan melihat
fenomena umum untuk kemudian menarik simpulan yang spesifik. Adapun penalaran
induktif adalah memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik
simpulan secara keseluruhan. Penalaran induktif menempatkan bukti-bukti
spesifik kedalam ide yang lebih luas. Metode ilmiah umumnya menempatkan
fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan
simpulan umum.
Berdasarkan Permendikbud Nomor 81A Tahun
2013 lampiran IV pendekatan saintifik memiliki beberapa tahapan pokok atau
langkahlangkah dalam pembelajaran, yaitu 1) mengamati 2) menanya 3) mengumpulkan
informasi/eksperimen 4) Mengasosiasikan/mengolah informasi 5)
mengkomunikasikan. Dengan menggunakan langkah-langkah tersebut siswa dapat
terlibat secara aktif dalam suatu pembelajaran. Selain itu seorang guru dapat
memilih metode atau model pembelajaran yang cocok untuk diterapkan dalam proses
pembelajaran.
Metode pembelajaran menurut Mulyono
(2012 : 16) diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan
rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran memiliki peranan yang sangat
penting dalam pembelajaran karena dengan suatu metode tertentu seorang guru dapat
berhasil menyampaikan materi pembelajaran.
Metode pembelajaran problem solving
menurut Mulyono (2012:108) merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam metode problem
solving dimulai dengan mencari data sampai dengan menarik kesimpulan.
Adapun tahapan dalam problem solving yang diajukan oleh Polya antara
lain, 1) memahami permasalahan matematika 2) merencanakan penyelesaian
permasalahan 3) melaksanakan rencana penyelesaian, dan 4) melihat kembali hasil
yang telah diperoleh.
Berdasarkan latar belakang yang telah
diuraikan di atas maka penulis termotivasi untuk melakukan sebuah penelitian
mengenai kemampuan penalaran matematika. Melalui pendekatan saintifik yang
terintegrasi model pembelajaran problem solving dengan beberapa proses
yang telah disebutkan diyakini mampu mengatasi permasalahan kurang maksimalnya
kemampuan penalaran matematika di SMP Negeri 1 Wonosari, sehingga berdampak
semakin tinggi kualitas intelegensi para siswa.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian
latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan uraian masalah sebagai berikut
:
Adakah peningkatan kemampuan penalaran matematika
siswa setelah dilakukan pembelajaran dengan pendekatan saintifik terintegrasi
model problem solving pada siswa kelas VIII SMP N 1 Wonosari Tahun 2015/2016?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan
Umum
Meningkatkan
kemampuan penalaran matematika siswa.
2.
Tujuan Khusus
Meningkatkan kemampuan
penalaran matematika siswa setelah dilakukan pembelajaran dengan pendekatan
saintifik terintegrasi model problem solving pada siswa kelas VIII SMP Negeri
1 Wonosari.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat
Teoritis
Dari segi teoritis, hasil penelitian ini diharapkan
secara umum mampu memberikan sumbangan
kepada pembelajaran matematika utamanya pada peningkatan kemampuan penalaran
matematika siswa dengan pendekatan saintifik terintegrasi model problem
solving.
Secara khusus, penelitian ini diharapkan dapat
memberikan kontribusi kepada model pembelajaran di sekolah serta mampu
mengoptimalkan peningkatan kemampuan penalaran matematika siswa.
2. Manfaat
Praktis
Dari segi
praktis, hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan bagi siswa, guru matematika
dan sekolah.
a. Bagi
siswa, dapat meningkatkan kemampuan
penalaran matematika siswa dan juga dapat membantu siswa mengembangkan potensi
yang ada pada dirinya.
b. Bagi
guru, membantu guru dalam menentukan model pembelajaran yang tepat sehingga
dapat meningkatkan kemampuan penalaran matematika siswa.
c. Bagi
sekolah, dapat memberikan sumbangan ide sehingga membantu memperbaiki proses
pembelajaran matematika.
selengkapnya klik disini